21 March 2008

nulis blog pribadi lagi...

Sudah lama g nulis blog pribadi. Dirangkum aja ah apa yg masih teringat.

- Indah hamil lagi, alhamdulillah
- dapet "istri" baru: blackberry 8707v. Bikin candu. Gawat.
- kantor marketing pindah ke sarijadi 52
- Rafi udah pinter ngoceh
- Wakala Sauqi aktif kembali, jauh lebih aktif dari sebelumnya
- dapet pinjeman mobil kijang. Lumayan belajar punya mobil, hehe.
- kampanye anti riba, anti uang kertas, anti perbankan
- kok aku yg ngidam ya??
- apa lagi yah?

Cuman itu yg bisa diingat. Lainnya ntar disambung

Labels:

13 July 2007

Banyak kejadian...

Halo blog, lama tak jumpa.
Sekarang sedang flu, jadinya males ngapa2in. Koding males, mikirin aneh2 males. Pengennya santai istirahat tapi g bisa tidur juga, menggigil kedinginan. Semoga cepat sembuh.

Banyak kejadian. Salah satunya Rafi mulai bisa jalan dan berdiri sendiri. Yang paling besar adalah beli dan pindah rumah. Alhamdulillah salah satu tujuan hidup tercapai dalam jangka waktu yg relatif sebentar. Pengen cerita dikit soal proses pembelian rumah ini. Pertama, harga rumah/tanah di Bandung pinggiran ternyata mahaal (apalagi Bandung tengah). Sempat survey ke sana ke mari lihat2 iklan koran, menelusuri daerah2 pinggir (!, beneran, PINGGIR!) kota Bandung. Harga rumah perumahan yg belum dibangun berkisar antara 70jutaan (tipe 21) s.d 200juta (tipe 54). Itu yg di pinggir. Kalau di tengah, dapet harga antara 500jt s.d hitungan M (!). Luar biasa mahalnya. Gosipnya sih harga tanah di Bandung itu paling mahal seIndonesia.

Setelah putar2, akhirnya ketemu jodoh. Kata orang, nyari rumah itu mirip2 dengan nyari jodoh. Survey lapangan capek juga, alhmd hanya sampai 3 x survey, ketemu dengan rumah yg cocok. Survey pertama ke daerah Bandung Utara, jauh di atas ciwaruga/polban. Di sana perumahan kosong, baru sedikit yg dibangun. Kisaran harga 70jt - 180juta. Awalnya tertarik tapi kok jauh dari peradaban ya. yah minimal lihat2 dulu. Survey ke-2 ke daerah ??? (lupa namanya, dekat cihampelas, yg banyak kuburan Buddha/Hindu), ada rumah second dijual harga 110jt. Hmm masuk di budget. Tapi begitu lihat rumahnya, langsung neg n geleng kepala.. Ini rumah ato sarang vampir?? Kesannya tua, gelap, n menyeramkan. Ukurannya juga g tlalu luas.Pokoknya kesan pertama menyebalkan deh.

Nah, survey yg ke-3 ini awalnya lihat iklan di koran. Rumah di jual, BU, Cicukang Indah, deket Margahayu Permai Kopo. Setelah janjian via telpon, langsung meluncur ke lokasi. Kopo macet :D. Tapi setelah lihat rumahnya, mm, langsung terpesona pada pandangan pertama. Lihat2 dikit, ngobrol2 dikit soal status tanah, listrik, air, lingkungan dll, n kenapa dijual. Besoknya langsung deal :D. Harga rumahnya, off the record, tapi boleh dibilang miring hampir separuh harga normal. Yang punya rumah menjualnya karena punya utang ke Bank (oh Bank, kau lembaga RIBA menjijikkan). Antara sedih dan senang. Senang karena bisa membeli rumah dgn harga terjangkau dan luas tanah/bangunan yg lumayan LT/LB:175/145 . Sedih karena ada satu keluarga terpaksa menjual rumahnya (lagi2) karena RIBA (BANK, segala macem isi kebun binatang aku kasih pada mu wahai rentenir). Sekarang masih dalam proses pindahan, akta jual beli sudah hampir selesai, tinggal meningkatkan status jadi hak milik.

Beberapa tips buat yg cari rumah:
- Cari rumah memang persis seperti cari jodoh. Kalo g sreg, ya udah jangan. Kalo sreg n uang ada, jangan ragu2.
- Lihat2 lokasi. Buat yg kerja di luar tentu saja lokasi sangat penting. Tapi kalo kerja di rumah, ya terserah Anda.
- Kalau punya cash, beli cash aja g usah utang. Rumah/tanah itu investasi besar. Kalau terpaksa utang, cari yg tidak memberatkan.
- Kalo g punya cash, lebih baik kredit daripada jadi kontraktor terus menerus :D

Buat yg jual rumah:
- kalo mau jual rumah bekas, bagusnya direnovasi (cat ulang, rumahnya dipercantik) dulu supaya harga jualnya naik dikit. Yg nyari rumah kalo kesan pertamanya jelek, 99% pasti g jadi beli.

Buat yg lain2:
- Plis, jangan mau deh berurusan ngutang sama Bank atau lembaga riba lainnya apalagi kalo bukan untuk kegiatan produktif. Rentenir2 itu g akan pernah puas menghisap darah Anda.

Buat teman2 semua, Insya Allah efektif agustus 2007 kalau g ada halangan, saya n keluarga pindahan ke

Jl. Cicukang Indah 14 No 16
Rt 04/Rw 15
Kel. Mekar Rahayu
Kec. Marga Asih
Kab. Bandung
(Deket Kompleks Margahayu Permai)
Telepon : belum disambung :D

Foto2 rumah (belum direnov)



12 March 2007

Wisata Kuliner - D' Cost

Kali ini mau ngomong soal makanan. Hari minggu kemarin, karena istriku bt di rumah mati lampu cukup lama, dia ngajak makan di luar. Pengennya makan sea food di D'Cost. Awalnya sih gara2 liat di acara Good Morning on the Weekend Trans TV n dikomporin sama Sari. Katanya murah, nasi 1 per orang cuman seribu sepuasnya, es teh manis cuman 500rupiah, teh tawar seratus rupiah sepuasnya. Hmm sepertinya lumayan menarik nih...

Awalnya sempat nyasar satu putaran. Mana perginya malam2 jam 9 dingin... (ngajak Rafi lagi...). Tapi untunglah ketemu. Sari salah kasih petunjuk. Saat masuk, jam sudah menunjukkan pukul 21.30 malam. Tinggal 1/2 jam lagi sebelum tutup.

Dari luar, banyak mobil dan motor parkir. Sepertinya luas juga, apa bener murah?? Setelah liat ke dalam, ternyata cukup luas dan penampilannya cukup 'wah'. Sempet ragu juga nih, soalnya bawa uang pas2an :-D. Kami masuk dan duduk di kursi yang disediakan pelayan. Setelah melihat menu.... ternyata memang benar, nasi 1 piring seribu sepuasnya, esteh manis 500, teh manis panas 250 per gelas, softdrink 1500. Tapi pas liat menu utama... mmm rentangnya antara 20ribu s.d 90ribu.... Ada sih yg 4000an tapi itu sayur2an seperti kangkung, sayur asem, dll. Udang2an, cumi2an beberapa belas ribu... Ada yg murah, ada yg relatif mahal. Tidak semuanya murah.

Prinsipku, kalau udah masuk restoran, rugi kalau g cicip menu yg aneh2/spesial (asal uangnya ada). Ya udah aku pesan Kepiting Lada Hitam. Udah lamaaa sekali g makan kepiting. Istriku pesan bawal bakar. Beberapa saat kemudian, pesanan datang. Kepitingnya cukup besar juga + saus lada hitam yang menggugah selera. Cicip saus, pedas, tapi enak. Kalau soal rasa sausnya, memang kuakui cukup enak. Nah yg repot, gimana makan kepitingnya nih, karena ud lama aku lupa caranya, lagi pula g mungkin diutakatik pakai sendok garpu, mana kuat (apa harus dipukul palu, tapi g ada pemukul buat mecahin cangkang). Ya udah iseng aja aku gigit itu cangkang kepiting, ternyata g terlalu keras. Seperti kulit udang tapi lebih keras sedikit, apa memang gigiku yg kuat ya?? Rasanya cukup enak tapi makannya repot, lebih banyak ngurus buka kulit kepiting dari pada ngunyah makanan. Yah gpp lah sekali2, lagipula sebanding dengan rasanya kok.

Begitu selesai, kami pulang, istriku makanannya g habis trus dibungkus. Sekali sebulan makan di luar, kali ini lumayanlah, tapi harganya g murah2 amat. Kecuali kalo cuman makan nasi putih + sayur + es teh manis, mungkin bisa di bawah 10ribu :-D . Restoran ini aku rekomendasikan kalau emang punya uang lebih buat makan (dan jangan sering2, ntar bangkrut), tapi kalau nggak, mending warteg aja deh, banyak, murah, cukup enak :-D .

Labels: ,

11 March 2007

Anggapan Umum tentang Emas yang Keliru

Artikel diambil dari www.islamhariini.org tanpa perubahan apapun.

Dalam perdebatan manapun tentang emas dan perak, kendati telah sering disangkal sebelumnya namun penentang kebebasan moneter acap kali mengemukakan beberapa keberatan tertentu. Keberatan-keberatan itu diantaranya:

• Emas yang ada tidak cukup;
• Rusia dan Afrika Selatan akan diuntungkan, karena keduanya adalah penghasil utama emas;
• Emas menjadi sasaran dampak spekulasi yang tidak diinginkan;
• Emas mengalami ketidak stabilan harga.

Anggapan pertama, yakni emas yang ada tidak cukup, dilandasi oleh kekeliruan atas harga emas. Anggapannya adalah kurs tukar emas dengan uang-kertas saat ini harus menjadi kurs tukar yang berlaku jika emas dijadikan alat tukar. Padahal jelas bukan itu masalahnya. Sederhana saja, jika mata uangnya adalah emas maka harga-harga yang lebih kecil akan menghapus kebutuhan untuk jumlah yang lebih besar. Contohnya, dengan kurs tukar yang berbeda sebuah baju seharga Rp. 2,000,000 satuan kertas dapat dibeli dengan 3-4 dinar emas saja.

Keberatan kedua yang menyangkut Rusia dan Afrika Selatan sama-sama tidak beralasan. Emas dapat dianggap sebagai keuntungan, sama halnya seperti minyak ataupun tanah subur. Dalam 2000 tahun terakhir, jumlah seluruh emas yang telah digali telah melebihi cadangan emas Rusia dan Afrika Selatan yang meski tersohor namun masih belum tercetak. Cadangan emas Rusia yang belum tercetak diperkirakan sekitar 250 juta ons, lebih sedikit dari cadangan emas Amerika Serikat yang sudah tercetak. Dalam saham-saham resmi saja (tidak termasuk milik pribadi), jumlah seluruh emas yang tercetak menurut IMF dapat diperkirakan sebesar 1.100 juta ons. Adanya permintaan emas sebagai alat tukar akan menarik keluar emas yang ditimbun, suatu proses yang sedang digandrungi kebanyakan bank sentral. Jadi seharusnya yang ditakuti adalah kenaikan besar-besaran pasokan uang-kertas yang akan menggiring kita pada dekade inflasi tinggi berikut seperti di era tahun 1970-an.

Keberatan ketiga , yakni emas menjadi sasaran dampak spekulasi sehingga terlalu goyah untuk digunakan sebagai alat tukar, juga salah. Selama tahun 1970-an, emas malah menjadi benteng utama terhadap inflasi. Harga emas yang membumbung dari $35 sampai $850 per ons merupakan hasil dari kekhawatiran atas nilai uang-kertas dan krisis internasional yang berkembang, dan khalayak yang keberatan atas emas karena sifatnya yang spekulatif telah mencampuradukkan antara sebab dengan akibat. Spekulasi yang sebenarnya dipicu oleh sistem uang-kertas yang tak dapat ditukar kembali dan khalayak yang secara logis ingin melindungi dirinya sendiri dari sistem itu.

Keberatan keempat yaitu emas akan mengalami ketidakstabilan harga. Bandingkan harga emas AS tahun 1833 dengan tahun 1933, yakni menjelang dilepaskannya standar emas domestik. Ternyata, dalam 100 tahun indeks harga komoditas borongan hanya naik 0,9%! Namun sejak itu, saat Presiden Nixon di tahun 1971 menyatakan kebangkrutan internasional dan mengumumkan tak ada lagi emas yang akan diberikan untuk dolar yang ditukar, indeksnya telah melonjak 350%. Dan dalam 20 tahun terakhir indeksnya meroket lagi sekitar 400%.

Dengan demikian emas stabil, layak untuk dijadikan uang, dapat diaplikasikan kapanpun dan dimanapun, dan sejarah telah membukakan mata kita bahwa tak ada uang yang lebih goyah dan lebih tak layak selain uang-kertas.

Para Pekerja Telah Dibohongi Mengenai Keadaan Mereka Sendiri

Artikel diambil dari www.islamhariini.org tanpa perubahan apapun (kecuali ilustrasi gambar yg mungkin tidak ada)

oleh Umar Ibrahim Vadillo

Pengangguran bukanlah akibat tenaga kerja manusia diganti oleh kehadiran mesin-mesin. Ini tidak benar.

Mesin memang bisa menggantikan kerja manusia, tetapi ini tidak membuktikan bahwa pengangguran terjadi akibat teknologisasi proses-proses produksi, kecuali jika kita menganggap bahwa satu-satunya cara untuk meraih pendapatan adalah dengan menjadi seorang pekerja yang bekerja demi upah. Dan ini pun tidak benar.

Sebelum anda menganggap bahwa bekerja adalah menjadi seorang pekerja, kita harus kaji lebih dahulu apa sebenarnya yang memaksa kita menjadi pekerja, sehingga kita tidak mampu memiliki usaha sendiri (berswakarya).

Mengapa tidak kita ganti saja istilah "penganggur" (tuna-karya) menjadi "tuna-swakarya"?

Mengapa tiba-tiba khalayak digolongkan sebagai pekerja atau penganggur, padahal sejarah membuktikan bahwa di masa silam sebagian besar khalayak berswakarya? Benarkah biang keladi pengangguran adalah teknologisasi proses-proses produksi? Salah, di sinilah justru kebohongannya.

Riba adalah satu-satunya penyebab keadaan yang konon disebut sebagai "pengangguran", atau lebih tepat, ribalah satu-satunya penyebab musnahnya berkesempatan untuk berswakarya.

Inti sari bisnis dan usaha adalah perdagangan, yaitu membeli lalu menjual. Selama masih ada orang yang memiliki sesuatu, dan masih ada orang yang ingin memiliki sesuatu, perdagangan akan selalu ada. Perdagangan tidak akan berkurang dengan adanya mesin-mesin, karena mesin tidak memiliki barang dagangan, mesin hanya bisa dijadikan sebagai alat produksi atau untuk aneka kegunaan lain. Para pekerja dapat digantikan oleh mesin-mesin, tetapi pedagang tidak.

Perdagangan tidak bisa dimusnahkan oleh mesin-mesin, namun bisa punah dengan adanya bunga sistem perbankan, yang apapun istilah maupun jenisnya, tetap saja riba.

Tingkat suku bunga bank berfungsi sebagai rintangan yang akan mematikan setiap usaha yang berada di bawahnya, perhatikan gambar dibawah ini


Jika suku bunga bank adalah 10%, maka tak seorangpun akan menanam modal dalam proyek usaha baru apapun yang berancar-ancar akan berbagi hasil sejumlah 6% dari modal; dan bila anda sedang melangsungkan usaha dengan bagi hasil 6%, maka anda akan terpikat untuk melego saja usaha anda dan menimbun uangnya di bank. Dengan demikian setiap usaha yang berada di bawah suku bunga 10% itu akan punah.

Margaret Thatcher dan para pakar moneter menyebut hal itu sebagai "penyingkiran usaha-usaha yang tidak berdaya saing", demi meningkatkan "daya saing" negara.

Namun mereka tidak menyatakan bahwa sebenarnya terdapat jauh lebih banyak usaha yang bisa dijalankan dengan keuntungan yang sangat kecil. Usaha yang bisa berkeuntungan besar hanya segelintir, yang lebih banyak adalah usaha-usaha berkeuntungan kecil. Dan sebagian besar usaha-usaha yang untungnya kecil itu adalah usaha kecil. Jadi sesungguhnya, fungsi suku bunga tadi adalah pemusnahan kesempatan hidup bagi mayoritas usaha kecil, demi peningkatan daya saing.

Jadi bagaimana mungkin pemusnahan usaha-usaha kecil bisa disebut sebagai "peningkatan daya saing", padahal kita memahami bahwa lebih baik ada 20 usaha kecil, dibanding dengan hanya satu usaha yang 20 kali lipat lebih besar? Apalagi manajemen swakarsa tentu lebih luwes dibanding manajemen birokratis piramidis. Di sinilah perbedaan antara perusahaan swakarya dengan perusahaan raksasa. Hal ini pula yang seharusnya menjadi nilaih lebih pasar bebas dibanding komunisme.

Jadi tujuan mereka "meningkatkan daya saing" adalah, agar hanya perusahaan-perusahaan besar saja yang bisa hidup, berkat raibnya gangguan dari usaha-usaha kecil pesaingnya, dan tentunya berkat berubahnya para pengusaha mandiri itu menjadi tenaga kerja murah dan rendah diri.

Dampak dari uang kertas yang dibuat seolah-olah ada nilainya dan tersedia dalam jumlah yang besar adalah: pembasmian usaha-usaha kecil. Tingkat suku bunga secara paksa telah merubah khalayak pengusaha mandiri menjadi pekerja-pekerja upahan yang sangat taat dan menghamba. Dan semua proses ini telah berlangsung selama berabad-abad.

Kini kita telah kembali mencapai puncak feodalisme baru. Socrates dengan tegas menyatakan bahwa upah itu khusus untuk para kacung dan budak. Kini kita semua telah dijadikan kacung dan budak. Terbebasnya masyarakat dari feodalisme abad pertengahan ditandai oleh kemerdekaan masyarakat untuk berswakarya atau untuk memilih bentuk pendapatannya sendiri. Hingga 150 tahun yang lalu, bekerja untuk orang lain masih dianggap sebagai sesuatu yang hina, yang hanya dilakukan secara sementara karena ditimpa krisis, atau terbatas dilakukan oleh mereka yang tak mampu mandiri. Dengan kehadiran bank-bank, keadaan itu dengan cepat berubah menjadi keadaan di mana khalayak mau tidak mau harus bekerja untuk orang lain, karena jika tidak mereka tak akan bisa memiliki apapun.

Awalnya, para bankir merekayasa 'kekuatan pasar' (melalui tingkat suku bunga) supaya manusia-manusia mandiri dijadikan "para pekerja" dan selanjutnya ketika suku bunga semakin didongkrak maka para pekerja pun menjadi penganggur. Dosanya bukan karena saya tidak bisa mendapat pekerjaan, namun karena saya telah dikutuk untuk bekerja bagi orang lain, karena saya tidak punya kesempatan secelah pun untuk berswausaha dan berswakarya, baik sendirian maupun, misalnya, bersama 50 orang lainnya.

Lahirnya sosialisme
Sosialisme lahir untuk memerangi keadaan yang mengerikan itu. Sosialisme pada masa awal kejadiannya, sama sekali berbeda dengan Sosialisme menurut anggapan kita kini, bukan saja berbeda bahkan bertentangan. David Ricardo (salah satu ekonom yang jadi panutan Karl Marx), menyatakan bahwa penyebab pengangguran adalah kehadiran mesin-mesin saat revolusi industri. Namun kaum sosialis tidak puas dengan kesimpulan itu. Bakunin menetapkan bahwa sosialisme adalah "peruntuhan negara". Yaitu negara sebagai penyelenggara pemungutan pajak, yang hasilnya berperan mutlak demi pembayaran utang negara kepada bank-bank (sebagaimnaa yang kini terjadi), padalahl pajak merupakan perintang perdagangan. Di Dresden, Richard Wagner merumuskan bahwa revolusi adalah "pemerintahan tanpa negara, dan perniagaan tanpa riba". Joseph Pierre Proudhon pun menuduh riba sebagai "biang kerok kelumpuhan industri".

Sosialisme merupakan perlawanan pada negara administratif dan pada bank-bank, demi menegakkan pemerintahan tanpa pajak-pajak, dan perdagangan tanpa bank-bank.

Pembajakan atas sosialisme
Karl Marx, cucu seorang rabbi Yahudi, di bawah penugasan Mr. Rotschild (pemimpin freemason cabang Inggris), membuat teori nilai tambah (surplus value) dengan menyelewengkan makna riba.

Dalam bahasa Ibrani (bahasa Yahudi), riba disebut tarbith, yang arti harfiahnya adalah peningkatan nilai. Dagang tidak sama dengan riba. Dagang adalah mendatangkan keuntungan dari membeli dan menjual, setidaknya ada dua transaksi yang terjadi. Riba adalah mengambil untung dari satu transaksi, menuntut lebih dari yang sedikit (contohnya membungakan uang). Marx berkata bahwa perdagangan menciptakan nilai tambah (atau riba), sedangkan transaksi ribawi tidak akan menciptakan nilai tambah (riba). Seiring dengan itu Marx mengagungkan konsep Negara yang secara munafik disebutnya sebagai Worker's State (Negara Milik Para Pekerja), lalu dia pun meninggikan derajat sang pekerja upahan menjadi sesuatu yang sangat ideal dan bernilai kepahlawanan tinggi (bukannya sebagai keterpaksaan menjadi hamba negara dan hamba para bankir). Dengan pertolongan para freemason (the League of the Just —Liga Keadilan, the Fraternal Democrats —Persaudaraan Demokrat, dan lainnya) Karl Marx telah merampas revolusi Eropa milik Proudhon dan Bakunin, dan menyajikannya dalam bentuk yang bertolak belakang.

Sosialisme modern versi Karl Marx bukanlah sosialisme —yang diperjuangkan oleh Proudhon dan Bakunin dalam peruntuhan Negara, sosialisme modern adalah Marxisme.

Pengkhianatan Serikat Buruh-isme
Serikat Buruh-isme adalah menyerah pada kekacungan. Serikat-serikat Buruh tidak mempertanyakan mengapa kita harus menjadi budaknya upah, namun tujuan utama perjuangan mereka adalah demi meningkatkan upah para pekerja. Serikat Buruh tidak akan pernah menyelesaikan masalah pengangguran, karena mereka telah pasrah menerima tegaknya sistem perbankan yang telah mengutuk mereka jadi pekerja yang tidak akan pernah bisa berswausaha.

Jadi, bukannya berjuang demi khalayak kelas pekerja, Serikat Buruh-isme malah menjamin bahwa akan selalu tersedia khalayak kelas pekerja.

Terpujilah Serikat-serikat Buruh, berkat perjuangan mereka kini orang-orang tidak lagi bekerja 12 jam sehari demi upah yang memprihatinkan (setidaknya begitulah nampaknya), walaupun yang sebenarnya dicapai oleh Serikat Buruh hanyalah kacung yang sedikit lebih ceria. Dengan melakukan itu, Serikat Buruh mencegah agar pokok masalah sebenarnya tidak digugat. Serikat Buruh-isme adalah pemberontakan para budak melawan para Majikan, seraya mengakui bahwa mereka tidak bisa menjadi Majikan. Andaikan pilihan semata wayang hanyalah pengangguran, tentu saja mempunyai pekerjaan menjadi penting. Namun hal ini tidak akan membuat semua orang ceria selamanya.

Serikat Buruh-isme sama dengan Marxisme, tidak mengecam riba. Mereka mengabaikan kata ini. Berkat mereka sistem perbankan jadi lestari.

Untuk menghilangkan sifat penghambaan kita pada dialektika menjadi pekerja atau menjadi penganggur, kita harus membasmi riba, artinya sistem perbankan harus dihapuskan. Selama kita masih bersama sistem perbankan, kita tak akan bisa mengelak dari kenyataan bahwa kita bekerja untuk orang lain, dan orang lain itu adalah: para bankir yang memiliki segalanya. Para bankir itu siap untuk menghukum para kacungnya dengan ancaman kehilangan pekerjaan dan hidup bergantung pada belas kasih negara. Ketakutan psikologis ini menyapu bersih kesempatan untuk berfikir bebas. Akhirnya yang ada adalah para kacung yang jauh lebih picik dibanding para majikannya. Mereka telah membuat khalayak takut pada perubahan sekecil apapun, karena takut kehilangan sesuap nasi yang telah dijanjikan. Kita dicekoki bahwa inilah yang "praktis" itu. Walhasil, tak heran jika kita lihat betapa gigihnya para kacung membela sistem perbankan, walaupun mereka adalah salah seorang dari 90.000 warga (di Inggris) yang setiap tahun harus kehilangan rumahnya, gara-gara tidak bisa membayar jahatnya bunga cicilan. Perbankan sudah menjadi "agama" yang ortodoks, bahkan sudah menjadi sebuah tabu (pemali). Untung saja masih ada orang-orang yang tidak percaya pada "agama" ini dan ingin berbuat sesuatu untuk mengatasinya.

Lantas, bagaimana caranya kita mencampakkan sistem perbankan?
Pertama, mari kita pahami dahulu bagaimana cara kerja bunga bank. Bank-bank itu berfungsi seolah penyebar ulang uang yang berasal dari simpanan kita. Mereka mendapatkan uang dari kita semua, lalu meminjamkannya pada orang lain. Mereka tidak meminjamkan uang tersebut kepada sesiapa yang paling jujur, atau kepada proyek usaha mana yang paling bermanfaat bagi masyarakat. Mereka tak peduli hal itu. Bank-bank hanya akan meminjamkan uang kepada sesiapa yang memiliki agunan yang memadai, tak peduli apapun tujuan usahanya. Boleh jadi usaha itu sangat bejat, namun asalkan anda punya agunan maka anda akan mendapatkan pinjaman. Sebaliknya, walau seseorang memiliki proyek yang sangat menjanjikan, bisa jadi tidak akan dapat pinjaman karena dia tidak mempunyai agunan yang memadai. Jelas ini bukanlah sistem terbaik bagi masyarakat. Sistem terbaik dan teradil bagi masyarakat adalah, jika sistem itu bisa menjamin bahwa modal milik masyarakat akan ditanamkan pada proyek-proyek terbaik, terlepas dari apakah si pengusaha itu kaya atau tidak. Dikatakan pada para pekerja: Kamu tidak boleh mengelola bisnis-bisnis besar, karena terus terang saja siapa sih kamu? Kamu tidak punya uang. Kamu hanya boleh bekerja demi upah. Maka tak heran jika berduyun-duyun pekerja lebih sungguh-sungguh membina hubungan suci mereka dengan bank, ketimbang hubungan mereka dengan agamanya, bahkan biasanya banklah yang menjadi keyakinan pegangan mereka. Adapun sistem adil yang disebutkan barusan, hanya bisa dicapai dengan penggunaan tertib kontrak gaya baru, yaitu kontrak-kontrak yang mengaitkan keuntungan bagi hasil investasi kepada kegiatan usaha itu sendiri, dan bukan kepada bunga.

Ketika bank-bank belum berdiri, kontrak-kontrak yang berlaku dalam perdagangan adalah kontrak-kontrak dari commenda dan perkongsian.

Commenda adalah kontrak peminjaman uang untuk usaha, dengan demikian akan ada untung atau rugi. Cara ini bertentangan dengan kontrak ribawi, di mana bank meminjamkan uang tanpa peduli kemungkinan kerugian usaha, bank hanya mau untungnya. Dalam kontrak ribawi, anda tidak menanam modal demi kepentingan usaha, melainkan demi keuntungan dari kontraknya saja. Bunga atas pinjaman sama dengan menyewakan uang, walaupun pada uang tidak ada "benda" yang bisa disewa. Bunga adalah mengeduk untung tanpa memberi manfaat apapun.

Bentuk kontrak lainnya adalah perkongsian. Inti sari perkongsian adalah pengalihan tanggung jawab atas barang/jasa kepada orang lain, dan orang lain pun melakukan hal yang sama kepada anda. Dalam pengalihan barang/jasa dari orang ke orang ini, kita akan menemukan dasar-dasar dalil yang revolusioner: membangun usaha tanpa perlu modal keuangan, artinya melakukan usaha tanpa harus memiliki modal atau memiliki usahanya. Ini adalah sesuatu yang tidak terpikirkan oleh manusia modern. Menakjubkan ! Dahulu usaha-usaha biasa berlangsung tanpa bergantung pada modal. Perkara ini tidak ada kaitannya dengan sistem Bursa Saham yang busuk itu, melainkan berkaitan dengan pembentukan guilds sebagai badan-badan pemdoal mandiri non formal, yang kini sudah dipunahkan oleh bank-bank. Kabar barunya adalah bahwa untuk menjadi pengusaha, anda tidak perlu jadi pemilik barang/jasa. Anda tidak memerlukan bank, yang anda perlukan adalah orang. Ini kabar buruk bagi bank-bank. Sistem sedemikian dapat berfungsi bila di antara kita ada sifat saling percaya. Dan sifat inilah yang menyebabkan kita dapat mandiri, hingga tak perlu bekerja demi upah. Sifat ini pula yang menjadi syarat hidupnya sistem commenda dan perkongsian. Dan semua ini adalah dasar-dasar bagi tegaknya pembaharuan dunia.

Bagaimanakah cara bank-bank menghapus sistem kontrak commenda, dan menggantinya dengan pinjaman berbunga? Dan bagaimana pula pernankan dapat membalik orang-orang yang bersyarikat dalam perkongsian menjadi orang-orang pengais upah?

Bank-bank menciptakan barang baru. Mereka ciptakan sistem uang kertas. Bahkan sistem uang kertas adalah perbankan itu sendiri. Pada awalnya, kekuatan sistem ini cukup menakjubkan. Bank-bank dapat menarik 1000 pound uang emas dan kemudian meminjamkan 20 kali lipatnya, yaitu 20.000 pound dalam bentuk kertas, artinya menciptakan kredit dari nihil dengan cara menipu. Pada masa itu, bank-bank (yang semuanya dikuasai oleh para Yahudi) diundang ke mana-mana di Eropa, karena mereka bisa mendatangkan uang dari nihil. Pada awalnya masyarakat terpesona, sebab mendadak di kota ada perputaran uang yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Usaha-usaha baru pun bermunculan di mana-mana. Bahkan bank menawarkan kertas-kertas yang bertuliskan angka-angka yang bernilai lebih tinggi dari emas yang hendak ditukarkan. 10 pound kertas diobral untuk ditukar 5 pound emas. Tak seorangpun bisa tahan godaan ini. Namun masalahnya, uang kertas itu bagaikan candu, efek pertamanya hebat lalu anda akan kecanduan. Dan beberapa tahun kemudian, ketika badai telah berlalu, baru khalayak sadar bahwa kini semua uang emas telah dikuasai oleh segelintir orang baru, sedangkan khalayak sisanya tidak lagi punya uang emas. Dan ketika khalayak menyerbu bank untuk menukarkan kembali lembaran-lembaran kertas itu dengan emas, diumumkanlah bahwa nilai uang kertas telah anjlok, bahwa mereka hanya bisa memperoleh emas senilai 1/100 dari nilai tertulis di kertas, atau pilih untuk terus memakai kertas-kertas itu. Khalayak telah ditipu. Kini, atas nama peradaban, proses yang sama pun sedang berlangsung di Nigeria utara. Mari kita tegaskan: Inflasi yang diakibatkan oleh pemaksaan satu alat tukar (yang dikendalikan oleh bank) adalah perampokan . Dan tidak mengijinkan khalayak untuk memilih alat tukarnya sendiri adalah penipuan .

Tingkat suku bunga perbankan telah membasmi usaha-usaha kecil. Mereka telah mengumpulkan lautan harta (uang-kredit) dan telah merekayasa penyalurannya hanya kepada perusahaan-perusahaan besar milik segelintir orang. Mereka tidak membuka kesempatan secelah pun bagi tumbuhnya perkongsian. Seluruh revolusi teknologi yang katanya demi manusia, telah dibajak oleh sistem perbankan dan dijelmakan jadi monster biadab. Dahulu ketika Eropa sibuk menjajah, masalah perampokan abadi dengan menggembosi nilai uang kertas ini tidak terlalu mencemaskan khalayak, karena berhasil diredam oleh pasokan besar-besaran aneka jarahan dari koloni-koloni jajahan, sehingga mengesankan bahwa keadaan baik-baik saja. Akan tetapi begitu hutang koloni-koloni di Dunia Ketiga itu mencapai titik jenuhnya, artinya mereka sudah tidak bisa dijarahi lagi, maka bahaya laten sistem ribawi itu mulai bangkit menyusupi rumah mereka sendiri. Jadi di masa kini, bukan hanya Dunia Ketiga saja yang hidup tertekan ditimpa hutang abadi, khalayak di Dunia Pertama pun kini sudah hampir gila menghadapinya.

Kita semua telah dijadikan pelayan oleh sistem perbankan, karena mereka memusnahkan kesempatan hidup usaha-usaha kecil, dan lebih-lebih lagi, mereka telah menjadikan kita sebagai penghutang-penghutang abadi. Gara-gara Negara berhutang, kita pun terlahir sebagai penghutang (seperti original sin), dan dengan kemampuan mereka memonopoli dan merekayasa kekuatan-kekuatan pasar, mereka menjamin bahwa semua upah yang akan mereka keluarkan untuk anda selama 20 tahun mendatang, akan tersedot kembali kepada mereka (para Majikan) karena anda membayar cicilan rumah yang harganya sudah dipompa berkali lipat. Kalau tidak mau begini, anda bisa menyewa rumah anda dan tak perlu punya apa-apa, cukup para Majikan saja yang memiliki segalanya, dan cukup anda saja yang lelah bekerja.

Tentu ini adalah muslihat yang sangat licik. Serikat-serikat Buruh tidak akan membela para pekerja. Mereka akan terus berusaha agar para pekerja selalu masuk kerja. Semua partai politik adalah dagelan dan tak akan mampu benar-benar membawa pembaharuan bagi masyarakat, karena semua kebijakan mereka bergantung pada bank. Sebelum kita belajar untuk hidup tanpa bank-bank, kita akan terus menjadi kacung-kacungnya. Kepercayaan adalah ajang di mana kontrak-kontrak commenda dan perkongsian bisa berjaya lagi. Dan ajang itu hanya bisa digalang dengan menerapkan kontrak-kontrak usaha yang tidak bergantung pada bank, melainkan cukup pada wewenang seseorang yang mandiri dan mewakili khalayak. Dengan kata lain, kita harus menghidupkan kembali bentuk-bentuk wewenang tradisional yang bersifat lokal, misalnya seperti Kepala-kepala marga di Skotlandia, Kepala-kepala suku di Afrika, para Lendakari di lembah negeri Basque, Amir-amir di Arab, atau seperti kepala-kepala keluarga mafia di Sisilia. Kepemimpinan masyarakat yang kini dikuasai perbankan harus direbut kembali. Jika kita sadar bahwa bank-bank telah menipu kita dan kita ingin terbebas darinya, maka kita harus mengalihkan tumpuan kepercayaan kita kepada pihak lain. Pada akhirnya sang pemimpin sebuah masyarakat harus bisa menjamin penyelenggaraan hukum-hukum dan dipenuhinya kontrak-kontrak, sehingga tumbuhlah saling percaya antar warga. Salah satu contoh ini adalah para Don Mafia. Sayangnya, tinggal merekalah satu-satunya kaum di Eropa yang dapat membuat kontrak di antara mereka, dengan kepemahaman bahwa kontrak itu akan dipenuhi. Karena tak ada seorangpun yang berani berbuat keliru, dan khalayak Mafia punya rasa saling percaya yang sangat tinggi, dengan cara mereka sendiri yang tidak mungkin dilaksanakan di luar lingkaran mereka. Sayang, tinggal merekalah satu-satunya kaum di Eropa yang bisa mengejawantahkan kepemimpinan.

Unsur terpenting untuk terbebas dari tirani sistem moneter bank dan aneka praktek ribawinya, adalah dengan adanya pihak yang diberi wewenang secara lokal, yaitu dalam jangkauan masyarakatnya. Tanpa adanya pengemban amanah itu, banklah yang akan berwenang, yang akan mendikte langkah-langkah kebijakan semua bangsa, dan kita akan terkutuk jadi kacung-kacung upahan mereka. Jika anda ingin keluar dari perangkap ini, anda harus bergabung bersama mereka yang sepaham, pilihlah seorang pemimpin dan nyatakanlah diri anda merdeka dari jeratan riba. Di luar sana, banyak orang sedang melakukan hal yang sama.

Satu-satunya jalan keluar dari sistem ribawi adalah Islam . Karena hanya Islamlah yang menegakkan pemerintahan tanpa negara dan perniagaan tanpa riba. Zaman yahudi dan kristen telah kadaluwarsa. Hanyalah dengan memahami bahwa "tiada tuhan selain Allah", baru manusia bisa berhenti menyembah segala sesuatu yang fana —seperti negara, uang dan pekerjaan mereka— dan menjadi merdekalah mereka. Hanyalah dengan membenarkan bahwa "Muhammad ialah Utusan Allah", baru akan tegak keadilan dalam transaksi. Pilih Islam atau Ekonomi, pilih Islam atau Sistem Perbankan, inilah keputusan yang harus diambil oleh setiap insan.

02 March 2007

Ada apa dengan Dinar?


Apa tuh Dinar? Gampangnya sih, Dinar itu koin emas dengan spek 4,25gram 22 karat. Pertama kali kenalan dengan Dinar pas mau nikah tahun 2005. Calon istri minta mas kawin pake koin Dinar. Ya wis tak turuti. Saat itu belum terlalu minat.

Beberapa bulan kemudian, istri (udah nikah nih ceritanya) bilang/diskusi supaya menabung dalam bentuk emas. Setelah pikir2, kita pilih pakai koin Dinar aja. OK no problem.

Beberapa waktu kemudian, setelah membaca berbagai artikel dan buku2 yg berkaitan, akhirnya jadi lebih mantap dengan koin ini. Pertama aku termasuk yg tidak setuju dengan tabungan bank konvensional (bunga). Selain alasan agama (riba), juga alasan ilmiah yaitu sifat uang kertas (mata uang rupiah) yg cenderung melemaaah terus dan 'uang kertas' itu sendiri. kalau didiskusikan panjang lah. Tapi artikel2 ttg Dinar bisa dilihat di www.islamhariini.org.

Hanya saja, sempat ada masalah yaitu: Nuker/belinya di mana?? Waktu mau nikah, belinya ke Wakala Adina jakarta tetapi di anterin ke Bandung oleh staff mereka yg kebetulan ke Bdg. Sekarang, Wakala di Bandung nggak aktif. Pas tanya ke Jakarta, g ada yg bisa anter. Sempat tanya langsung ke PT. Logam Mulia, eh mesti ke sana (maless bo). Sempat hunting Pegadaian (koin haji), g dijual lagi (anneeh)... Tapi ternyata 'di mana ada kemauan di situ ada jalan' berlaku. Dari Wakala Adina Jakarta ada yg mau ke bandung, kebetulan ada acara. Ya sudah langsung pesan. Alhmd lancar. g ada masalah.

Selain buat pribadi, masalah koin Dinar ini aku tularkan juga ke kru Suteki dan alhmd semua setuju penggunaan koin ini sebagai pengaganti sebagian gaji :-D . Buat tabungan/invest sangat bagus. Sampai sekarang, tiap bulan gaji kru SUteki sebagian dibayar pakai koin Dinar. Sekedar info, tahun 2005 Mei (pertama kali beli Dinar), harganya 550ribu, sekarang 2007 Maret, harganya 850ribu. Naik sebesar Rp 300ribu (!) (sebenarnya mata uang rupiah yg turun, bukan Dinar yg naik). Adakah tabungan lain yg bisa seperti itu (dalam dua tahu ratenya 50% lebih) (tabungan lho ya bukan dagang/invest/properti/tanah)?

Akhirnya, D650 JVC


Setelah pikir sana pikir sini n baca berbagai literatur, akhirnya pilih Camcoder JVCD650. Pertimbangannya sederhana, harganya relatif murah n cukup bagus di kelasnya. Camcoder HDD untuk sementara lupakan dulu, masih mahal n hasil g terlalu bagus. Tadinya ada dua pilihan yaitu D650 ato SonyHC48, tapi harganya beda 1/2 jt n kelengkapannya mending JVC. Ya sudah, final.
Sekali lagi, pesan ke Yoma Comp (males keluar), tinggal tunggu barang dianter, coba, bayar. Selesai? Belum, mesti eksplorasi dulu. Maklum termasuk gaptek n jarang coba2 barang elektronik kecuali kepepet. Karena belum pernah nyicip camcoder, awalnya bingung juga gimana ngoperasikannya. Ya nunut manual langkah per langkah. Alhmd bisa biarpun terjemahan manualnya lumayan berantakan.
berikutnya apa? Tes ngabisin satu kaset miniDV, jadilah Rafi sebagai objek utama. Wah, ternyata ngabisin 1 kaset itu lama (60 menit), sampe 2 hari belum habis juga 1 kaset. Momennya kurang kali ya. Jadi buat yg kepengen camcoder HDD, yg katanya bisa sampe 7 jam, g usah muluk2... kalau masih amatir, miniDV aja pusing ngabisinnya.
Beberapa fitur yang cukup menarik dan belum tentu ada di camcoder sejenis: - bisa rekam dari TV/Video (asal ada konektor VCR) ke kaset miniDV, bisa juga dari PC. Ya udah, Bunda udah niat rekam acara Gula2 tiap sabtu :)
Yg mesti dipelajari selanjutnya adalah cara transfer dari miniDV ke PC => File/DVD/VCD/miniDV lagi. Yg penting ada port FireWire (beli dah)n ada software untuk capture. Di Windows sudah ada tuh, Windows Movie Maker. Bisa langsung pakai. G sulit. Tapi g bisa jadi DVD, kalau ini mesti pake software lain yg lebih pro kali ya.
Belum selesai semua sih eksplorenya. Tapi lumayan lah ud bisa dasar2nya. Ok tinggal dipakai supaya lebih bermanfaat.

24 February 2007

Proyektor, Camcoder

Minggu lalu beli proyektor. Buat kebutuhan kantor sih (juga entertainment, hehehe). Karena males survey lapangan, cari2 aja di internet lihat2 bhinneka.com dan lain2. Awalnya bingung juga karena g tahu apa2 soal spek Proyektor. Tapi setelah tanya kiri kanan jadi lumayan tahu apa yg harus diperhatikan kalo mau beli proyektor. Beberapa di antaranya seperti Ansi Lumens-nya, umur lampu, harga (tentu saja), dll.

Setelah liat2 dikit di internet, pilihan jatuh ke MP611 BenQ. Alasannya: Lumens cukup tinggi, harga relatif terjangkau. Kebutuhannya sih cuman buat demo (internal or eksternal) n pemakaian entertain (kalau mau lihat bioskop sendiri, huehehe). Karena males keluar, pesan via telepon YomaComp toko komputer langganan di Dipati Ukur. Sore barang datang. Setelah dicoba dikit n bagus, ok langsung bayar.

Alhm langsung bisa dipakai terutama buat presentasi kalau ada tamu/klien/calon klien. Kalau presentasi di tempat klien, biasanya si klien ud punya proyektor. Terus iseng testing di beberapa ruangan mencari2 posisi n tempat yang pas. Yah lumayanlah g perlu beli layar lagi. Testing bioskop pake film Kabuto the Movie dan Superman Returns.... (g perlu ke bioskop neeh), tinggal atur tata suara aja :-D.

Oya, jadi tau juga cara itung2 kalau ada yg mau sewa. Mudah aja sih, Harga beli / Jam umur pemakaian = harga modal per jam. Tinggal mau ambil margin berapa dari hasil tersebut.

Masalah proyektor, beres. Sampai ini g ada masalah. Rencana berikutnya m beli Camcoder, niatnya buat dokumentasi acara2, buat Video promosi n manual. Tapi tidak seperti pemilihan proyektor yg mulus2 aja. Agak bingung juga dalam memilih model n merk apa. Awalnya tertarik dengan Camcoder Harddisk, tapi setelah review sana sini, harganya masih mahal n hasilnya g sebagus kualitas miniDV. Yg jelas model DVD out of topik, g terlalu menarik karena waktu rekamnya yg minim (30 menit) n harga DVD (ori) nya yg mahal.

Pilihan tinggal miniDV or HDD. Kedua-nya ada kelebihan dan kekurangan. Yang jelas kualitas miniDV (RAW) >> dari HDD (MPEG-2). Tapi pemindahan data/video jelas lebih cepat HDD karena tinggal Copy-Paste. Repotnya miniDV: perlu beli kaset terus menerus (walaupun harga cukup murah), kalo HDD kan tinggal pakai. Sebaliknya, HDD rentan rusak kena benturan, kalo kaset, tinggal beli baru. Satu lagi, output miniDV (AVI) lebih mudah diolah (biarpun gede pisan) daripada MPEG-2. Nah yg paling pengaruh, harga Camcoder MiniDV relatif lebih murah daripada HDD sekarang. Binun....

Selain itu, ada beberapa faktor teknis lain yg jadi pertimbangan seperti: Zoom optik (lupakan zoom digital, g ada pengaruh), CCD / 3CCD, viewfinder, LCD touchscreen, yang masing2 merk n seri beda2, jadi tambah binun.

Ada beberapa merk/seri yg jadi pertimbangan seperti : JVC GZ-MG37/70/77/505 , Sony SR-40/60/80/100 (?) buat yg model HDD (tapi masih mahal bo), JVC 570, Pan GS180 dkk (miniDV). Iseng2 cari review produk di internet, waks, hampir semua model JVC HDD direview jelek (cuman 1 yg lumayan, seri 505 tapi masih mahal amat), model SOny HDD juga g terlalu bagus. Kalo miniDV rata2 bagus tinggal pilihan lensa n CCD-nya aja. Pengen coba langsung ke BEC, eh g ada yg bisa coba dulu baru beli :-( .

Alhasil sampai sekarang belum menemukan pilihan buat Camcoder. Ntar deh dipikir2 sambil bertapa (programming).

Oya kesimpulan dari ini semua, aku jadi lebih tahu ttg jenis produk2 tsb :-D tambah ilmu ding.

20 February 2007

GORONTALO, MAKASSAR

Minggu lalu (11/02/2007) Aku ke Gorontalo dan Makassar. Ada kerjaan di sana. Hitung2 sambil refreshing n jalan2. Baru pertama kali ini ke sulawesi. Waktu tempuh ke Gorontalo sekitar 3 jam naik pesawat + transit ke Makassar dulu. Dari bandara Jalaluddin, ke Kota Gorontalo sekitar 1 jam perjalanan pakai mobil.

Siang hari sampai di Gorontalo, kemudian Aku diajak makan ke daerah pantai. Sayang tempat makannya tutup, yg ada cuman pantai yang g ada pasirnya (batu semua...). Akhirnya makan di kota. Rumah Makan Mawar Sharon, nama yg aneh. Nyoba jus mawar Sharon, lumayan enak walaupun g tahu mawar Sharon itu tumbuhan apa ya?

Soal kerjaan, Aku lagi ngurus Sistem Akademik, Kepegawaian dan Absensi di Universitas Negeri Gorontalo. G ada yang isitimewa ttg pekerjaan. Aku justru ingin bahas masalah kuliner :-D. kesan pertama ttg makanan di Gorontalo : PEDAS!! Bahannya pakai cabe rawit semua. Malam hari pas makan, nyobain cumi bakar rica, LUAR BIASA PEDASNYA. Orang padang barangkali cocok ke sini. Sejak itu, tiap makan aku g lupa untuk cari menu yg tidak pedas dan siap2 kecap manis + air es buat minum. :-(

Oya, yang menarik juga, ayam goreng (paha/dada) di sini BESAR sekali. Mungkin 3 x lipat ukuran ayam yg ada di Bandung. Bisa untuk makan 3 orang. Puas kalo makan ayam di sini :-D .

Transportasi utama di sini namanya Bentor, Becak-Motor. bentuknya ya kayak becak, tapi pengemudinya pakai motor. katanya sih, bikin macet di Gorontalo. Oya, Gorontalo kota yang relatif sepi. Masih dalam proses membangun sepertinya. G ada terlihat gedung tinggi sama sekali. Pas hari minggu datang, sepiii sekali. jarang ayang ada di luar, bahkan warung2 pun tutup. Makanan utama di sini ya masakan laut, kangkung. Gorontalo menghasilkan jagung manis, tapi sayangnya belum sempat coba.

Rabu siang ke Makassar, rencananya sih mau santai, tapi ternyata dapat kabar Rafi kena diare. Yah harus cepat2 pulang. Di Makassar cuman 1 hari full (kamis). Sempat makan makanan laut (lagi). Kali ini cukup bikin heran juga, sambal sih nggak pedas, tapi ukuran ikannya itu lho. Masak satu orang satu ikan besar yg bisa jadi lauk buat 3 orang. Weleh2 dasar kota laut :-D. Makanannya sih enak, tapi cuacanya PANAS sekali, seperti di Jakarta, menyengat. kalau Gorontalo panas tapi lebih sejuk, rntah karena sedang mendung atau memang lebih sejuk. Oya di Makassar Aku ngurus UNM (Universitas negeri Makassar), Sistem Akademik juga. Eh sempat ketemu dosen dari Polban (Pak Sobar) di acara yg sama.

Kamis sore aku pulang ke Bandung. Kasihan Rafi lama2 ditinggal ayahnya :-)

Kapan2 barangkali Aku akan ke sana lagi. kalau bukan liburan, ya ngurus pekerjaan. Belum sempat cicip pantainya :-D